Pemerintah Bangun Pabrik NPK Nitrat, Impor Dibidik Turun 450 Ribu Ton per Tahun

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan pembangunan pabrik NPK Nitrat ditujukan untuk menekan impor pupuk dan menurunkan biaya produksi petani (Foto/Sultoni)

JAKARTA,NOLESBERITA.COM-Pemerintah mempercepat agenda kemandirian pupuk nasional dengan membangun pabrik NPK Nitrat pertama di Indonesia. Langkah ini diarahkan untuk memangkas ketergantungan impor sekaligus menurunkan biaya produksi pertanian yang selama ini membebani petani.

Pabrik NPK Nitrat tersebut akan memiliki kapasitas 100 ribu ton per tahun dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Fasilitas ini dirancang menggantikan pabrik lama yang dinilai tidak lagi efisien, baik dari sisi teknologi maupun ongkos produksi.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan, pembangunan pabrik ini menjadi instrumen strategis untuk menekan impor pupuk sekaligus meningkatkan produktivitas sektor pertanian.

“Kita ingin produksi lebih efisien, ongkosnya turun, dan ketergantungan impor bisa dikurangi. Ini bukan sekadar menambah pabrik, tapi memperbaiki struktur biaya pupuk,” ujarnya dikutip Minggu, 28 Desember 2025.

Menurut Sudaryono, proyek NPK Nitrat ini merupakan bagian dari pembangunan tujuh pabrik pupuk baru hingga 2029, sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menempatkan pangan dan pertanian sebagai prioritas utama pembangunan nasional.

Pemerintah juga membenahi tata kelola pupuk dari sisi distribusi dan harga. Penyederhanaan rantai distribusi terus dilakukan agar pupuk subsidi tepat sasaran, sementara kebijakan diskon harga pupuk subsidi sebesar 20 persen diharapkan mampu menekan biaya produksi petani secara langsung.

“Pupuk harus tersedia, mudah diakses, dan harganya terjangkau. Itu kunci agar program ketahanan pangan berjalan,” tegas Sudaryono.

Dari sisi industri, Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmat Pribadi mengungkapkan Indonesia selama ini masih mengimpor sekitar 450 ribu ton NPK Nitrat per tahun. Produksi dalam negeri melalui pabrik baru ini diharapkan menjadi titik balik untuk mengurangi dominasi produk impor di pasar domestik.

“Selama ini NPK Nitrat masih didominasi impor. Dengan produksi sendiri, kita mulai merebut pasar dalam negeri dan mengurangi ketergantungan dari luar,” ujarnya.

Pabrik NPK Nitrat ini dibangun dengan investasi sekitar Rp550–600 miliar. Selain substitusi impor, proyek tersebut ditujukan untuk menekan harga NPK Nitrat agar lebih terjangkau bagi petani dan meningkatkan daya saing hasil pertanian nasional.

Di sisi lain, pemerintah juga mendorong arah pertanian berkelanjutan. Penguatan produksi pupuk yang mampu menjaga keseimbangan unsur hara tanah dan mikroorganisme menjadi bagian dari strategi jangka panjang sektor pertanian.

Pembangunan pabrik NPK Nitrat ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam membangun kemandirian pupuk nasional dari ketergantungan impor menuju produksi dalam negeri yang lebih efisien, terukur, dan berorientasi pada kesejahteraan petani.

Penulis: Sultoni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *