Foto ilustrasi perbankan, Bank syariah pelat merah hasil spin off BTN ini membidik aset Rp100 triliun dalam dua tahun (Foto/phothos)
JAKARTA,NOLESBERITA.COM-Industri perbankan syariah nasional resmi memasuki fase baru. PT Bank Syariah Nasional (BSN) mulai beroperasi penuh secara nasional sejak 22 Desember 2025, menandai kelahiran bank syariah pelat merah kedua di Indonesia setelah Bank Syariah Indonesia (BSI).
BSN bukan bank baru biasa. Ia lahir dari spin off Unit Usaha Syariah BTN, langkah strategis yang sejak lama diwajibkan regulator, namun kerap tertunda karena persoalan modal, struktur, dan kesiapan bisnis. Kini, BTN akhirnya menuntaskan proses tersebut dengan membawa BSN berdiri sebagai bank umum syariah (BUS) bermodal kuat.
Pasca spin off, BSN mengantongi aset sekitar Rp71 triliun dan secara terbuka membidik aset di atas Rp100 triliun dalam dua tahun. Target ini menempatkan BSN langsung sebagai pemain papan atas di segmen perbankan syariah nasional.
Direktur Utama BSN Alex Sofjan Noor menyebut operasional nasional BSN sebagai bukti kesiapan perseroan memasuki persaingan industri yang kian ketat.
“Ini hasil proses panjang dengan dukungan kuat para pemangku kepentingan. Kami yakin BSN mampu meningkatkan kinerja dan mengambil peran strategis di ekosistem perbankan syariah,” kata Alex saat peresmian operasional di Jakarta.
Namun, berdirinya BSN tidak datang tanpa manuver besar. BTN memilih jalan cepat dengan mengakuisisi PT Bank Victoria Syariah (BVS) pada Juni 2025 senilai Rp1,5 triliun, menjadikannya entitas cangkang bagi BTN Syariah. Strategi ini dipilih karena dinilai lebih efisien ketimbang mendirikan bank baru dari nol.
Langkah tersebut sekaligus menutup spekulasi pasar soal akuisisi Bank Muamalat Indonesia (BMI), bank syariah tertua di Tanah Air yang sempat masuk radar BTN sejak 2023. Rencana itu kandas setelah menuai kritik keras, terutama karena kondisi keuangan BMI yang dinilai belum sehat, meski asetnya lebih besar.
Sebagai perbandingan, hingga triwulan I-2025, aset BMI tercatat Rp60,58 triliun, hampir setara dengan BTN Syariah Rp61,19 triliun. Jika BTN kala itu memilih Muamalat, aset BSN secara otomatis bisa melampaui Rp100 triliun sejak hari pertama. Namun, risiko kesehatan bank menjadi ganjalan utama.
Dari sisi permodalan, BTN menyiapkan modal awal sekitar Rp6 triliun untuk BSN, berasal dari setoran modal, rencana rights issue Rp1 triliun, serta akuisisi BVS. Angka ini disiapkan untuk memenuhi ketentuan KBMI II dan menjaga rasio kecukupan modal (CAR) di level 18–19 persen.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menegaskan struktur modal tersebut menjadi fondasi agar BSN dapat tumbuh agresif tanpa mengorbankan kesehatan keuangan.
Dengan berdirinya BSN, peta perbankan syariah nasional kian terkonsentrasi. Di satu sisi, pasar mendapatkan pemain besar baru. Di sisi lain, persaingan antarbank syariah dipastikan makin keras, terutama dalam perebutan dana murah, pembiayaan perumahan, dan ceruk pasar halal yang terus membesar.
BSN kini tidak hanya diuji oleh target aset ambisius, tetapi juga oleh ekspektasi publik: apakah bank syariah pelat merah ini mampu menjadi mesin pertumbuhan baru, atau sekadar melengkapi struktur industri yang sudah ada.
Editor: Sultoni
