Sketsa M Tabrani, pejuang sekaligus pencetus bahasa Indonesia (foto/Istimewa)
Nolesberita.com – Jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan sebelum nama “Indonesia” mapan digunakan, seorang pemuda dari Pamekasan, Madura, sudah mengusung gagasan yang dianggap terlalu berani: bangsa ini harus memiliki bahasa sendiri, bahasa yang menyatukan.
Pemuda itu bernama Mohammad Tabrani Soerjowitjitro. Lahir pada 10 Oktober 1904, Tabrani tidak tumbuh dalam lingkungan istimewa. Namun ia tumbuh dengan kecintaan pada ilmu dan kegelisahan tentang masa depan bangsanya.
Pendidikan di HIS Pamekasan, MULO Surabaya, hingga OSVIA Bandung membentuknya menjadi pemuda yang berpikir jauh melampaui zamannya.
Ketika terjun ke dunia pers pada 1925 melalui Hindia Baroe, ia bukan hanya menulis berita, namun menulis gagasan besar.
Ia percaya bangsa ini membutuhkan identitas yang kokoh, dan identitas itu harus dimulai dari bahasa. Pemikirannya mengantarnya menjadi Pemimpin Redaksi Harian Pemandangan, salah satu media yang tetap bertahan di masa kolonial hingga pendudukan Jepang. Di sana, Tabrani menjadikan pena sebagai senjata perjuangan, menggerakkan kesadaran kebangsaan lewat tulisan-tulisannya.
Puncak perjuangannya terlihat jelas ketika ia memimpin Kongres Pemuda I pada tahun 1926. Di tengah perdebatan panjang tentang bahasa persatuan, sebagian tokoh menyatakan Bahasa Melayu sebagai pilihan terbaik. Namun Tabrani menolak tunduk pada pemikiran lama. Ia berdiri, menyuarakan ide yang bahkan belum banyak dipahami: yakni,“Bahasa Indonesia.”
Gagasan itu dianggap mengawang-awang. Muhammad Yamin menyebutnya “pelamun”. Para pemuda lain menganggap bahasa itu belum ada, belum dikenal, bahkan belum terbentuk. Tapi Tabrani tidak mundur. Ia mengatakan, jika bahasa Indonesia belum ada, maka bangsa ini harus menciptakannya.
Keberanian intelektual itulah yang kemudian menjadi fondasi berdirinya bahasa nasional. Dua tahun kemudian, pada Kongres Pemuda II tahun 1928, Bahasa Indonesia disepakati sebagai bahasa persatuan, melahirkan Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak besar perjalanan bangsa.
Sejarah mencatat kemenangan itu, tetapi nama Tabrani sering tenggelam di balik tokoh lain. Padahal tanpa keberaniannya di tahun 1926, arah diskusi tentang bahasa mungkin tidak akan seberani itu.
Perjuangan gagasan Tabrani terus berlangsung hingga masa-masa sulit. Ia melewati tekanan kolonial, sensor pers ketat, dan pergantian rezim. Namun idealisme kebangsaannya tidak pernah padam. Ia wafat pada 12 Januari 1984, meninggalkan jejak besar yang belum sepenuhnya dihargai pada zamannya.
Baru puluhan tahun kemudian, negara menyadari betapa besar peran seorang putra Madura dalam membentuk identitas bangsa. Melalui proses yang panjang, dari Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Balai Bahasa Jawa Timur, hingga Dewan Gelar di tingkat nasional, akhirnya pemerintah menetapkan M. Tabrani sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2023.
Pengakuan ini bukan sekadar penghargaan, tetapi pelurusan sejarah. Bahasa yang mempertemukan 270 juta jiwa hari ini yang menjadi alat persatuan dari Sabang sampai Merauke, berawal dari keberanian seorang pemuda Madura yang pernah melampaui zamannya.
M. Tabrani bukan hanya jurnalis atau aktivis. Ia adalah peletak dasar bahasa, pengusung ide persatuan, dan salah satu pemikir paling visioner dalam sejarah bangsa. (Red)