KH Zulfa Mustofa saat konferensi pers usai mengisi Dialog kebangsaan di Gedung Rato Ebuh Bangkalan (Foto/Syah)
BANGKALAN, NOLESBERITA.COM – KH Zulfa Mustofa akhirnya angkat suara merespons islah antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Baginya, islah adalah kabar yang menenangkan, namun tidak bisa dimaknai sekadar wacana tanpa kejelasan proses organisasi.
Saat kabar islah itu mencuat ke ruang publik, KH Zulfa mengaku tengah berada di Makkah. Dari Tanah Suci, Pria yang sempat didapuk sebagai PJ Ketua Umum PBNU itu menyambut kabar tersebut dengan rasa gembira. Bahkan, responsnya langsung ia tuangkan melalui media sosial.
“Sebagai seorang muslim, ketika mendengar ada islah, tentu saya senang. Islah itu artinya menghentikan perselisihan,” ujar KH Zulfa. Senin, 29 Desember 2025 usai mengisi dialog kebangsaan atas gelar pahlawan Syaikhona Kholil di Gedung Rato Ebuh Bangkalan. Senin, 29 Desember 2025.
Namun kegembiraan itu, menurutnya, tidak serta-merta menghapus kebutuhan akan kejelasan. Hingga kini, ia mengaku belum mengetahui secara rinci isi kesepakatan islah yang dimaksud. Informasi yang ia terima pun baru bersifat penjelasan awal.
“Sampai sekarang detail kesepakatannya saya belum dengar secara utuh. Dan itu bukan kewenangan saya untuk menjelaskan,” katanya.
KH Zulfa menegaskan, dalam tradisi dan tata kelola NU, setiap keputusan strategis harus ditempuh melalui mekanisme organisasi yang jelas. Islah, menurutnya, bukan hanya soal niat baik, tetapi juga soal prosedur dan legitimasi.
“Semua ada mekanismenya. Dalam organisasi, mekanisme itu ditempuh lewat rapat resmi,” tegasnya.
Terkait posisi kepengurusan PBNU pasca-munculnya adanya islah, KH Zulfa menegaskan bahwa selama proses organisasi belum berjalan dan belum ada keputusan final, maka struktur yang ada tetap berlaku. Ia mengibaratkan dirinya seperti kopilot yang diminta memegang kendali sementara ketika organisasi menghadapi turbulensi.
“Selama belum ada kejelasan dan keputusan resmi, maka tetap berjalan sesuai ketentuan yang ada,” ujarnya.
KH Zulfa juga memilih bersikap etis ketika ditanya lebih jauh soal detail teknis kepengurusan. Ia menegaskan tidak ingin melangkahi kewenangan pihak lain dalam menjelaskan hal-hal yang belum diputuskan secara formal.
“Untuk hal-hal teknis dan detail, sebaiknya ditanyakan langsung kepada yang berwenang. Saya tidak etis untuk menjelaskan itu,” ucapnya.
Bagi KH Zulfa, islah adalah harapan bersama warga NU. Namun harapan itu hanya akan bermakna jika dijalankan secara tertib, terbuka, dan sesuai dengan aturan organisasi.
“Islah itu baik. Tapi NU harus dijaga dengan cara yang benar,” pungkasnya.
Penulis: Syah
