
Nolesberita.com, BANGKALAN – Tidak semua orang siap berhenti menerima bantuan sosial dari pemerintah. Bansos kerap menjadi penopang hidup, terutama bagi keluarga yang ekonominya belum stabil. Ketergantungan itu wajar terjadi, sebab bantuan tersebut sering kali menjadi tumpuan terakhir di tengah tekanan kebutuhan sehari-hari.
Namun di tengah banyaknya penerima bansos yang enggan melepas bantuan, Rodifah, warga Dusun Kwanyar, Desa Bumianyar, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, justru memilih langkah berani. Perempuan kelahiran 24 Maret 1992 ini memutuskan berhenti menjadi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) setelah merasa mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Keputusan itu bukan tanpa cerita. Saat pertama kali mendapatkan PKH, kondisi ekonomi keluarga Rodifah berada pada titik terendah. Ibunya sakit, suami belum memiliki pekerjaan tetap, sementara kebutuhan sekolah anak harus tetap dipenuhi. Bantuan PKH yang berkisar Rp750 ribu hingga Rp900 ribu per tahap menjadi penyelamat utama dalam masa-masa krisis tersebut.
“Waktu itu PKH sangat membantu. Untuk sekolah anak, untuk makan, bahkan biaya berobat mertua juga dari situ,” cerita Rodifah mengenang masa sulitnya kepada nolesberita.com, Jumat, 28 November 2025.
Namun perjalanan Rodifah tidak berhenti di sana. Edukasi dari pendamping PKH perlahan membuka pemahamannya bahwa bantuan pemerintah bukan untuk selamanya. Dalam setiap pertemuan, ia diajarkan bahwa bansos adalah alat bantu sementara. Dari pemahaman itulah keberanian Rodifah lahir.
Ia memutuskan mencoba membuka usaha warung sembako kecil-kecilan di depan rumah. Bermodalkan keberanian dan barang seadanya, ia mulai melayani pembeli dari warga sekitar. Rak yang awalnya hanya berisi beberapa produk, kini mulai penuh seiring bertambahnya pelanggan dan meningkatnya omzet.
Perkembangan itu membuat pendamping PKH menilai Rodifah telah berhasil mencapai kemandirian ekonomi. Saat penilaian graduasi dilakukan, Rodifah dihadapkan pada pilihan berat, antara tetap menerima bantuan atau berani melepasnya.
“Saya jujur sempat ragu. Takut kalau nanti usaha sepi, takut kalau tidak bisa bertahan. Tapi kalau sudah mampu, saya tidak ingin mengambil hak orang lain yang lebih membutuhkan,” ujarnya.
Keberanian itu mengubah hidupnya. Setelah resmi graduasi mandiri, usaha sembakonya justru berkembang lebih cepat. Kini, pendapatannya mencapai sekitar tiga juta rupiah per bulan. Ia juga mendapat pembinaan lanjutan untuk memperkuat usahanya.
Bagi Rodifah, PKH bukan hanya tentang dana. Lebih dari itu, program tersebut membantunya membangun pola pikir baru. “PKH itu jembatan. Kita sendiri yang harus mau melangkah untuk menyeberang,” tegasnya.
Kisahnya kini menjadi inspirasi bagi banyak KPM lainnya di Bangkalan. Ia membuktikan bahwa keberanian melepaskan bantuan justru bisa membuka peluang hidup yang lebih luas.
“Alhamdulillah, sekarang saya bisa mandiri. Dan yang paling penting, tidak lagi membebani negara,” tutupnya sambil tersenyum lega. (Syah/Yus)
