PAD Disnak Bangkalan 2025 Baru 61,28 Persen, RPH Jadi Tantangan Utama

Tampak kantor Disnak Kabupaten Bangkalan (Foto/istimewa)


BANGKALAN, Nolesberita.com– Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Bangkalan tahun anggaran 2025 belum mencapai target.

Hingga pertengahan Desember, capaian PAD baru menyentuh Rp244.415. 813. 52 atau 61,28 persen dari total target Rp403.753.500,00. Dengan demikian, masih terdapat kekurangan sebesar Rp159.162.934,61 yang belum terealisasi.

Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Bangkalan, Sumira, menjelaskan bahwa PAD instansinya bersumber dari dua sektor utama, yakni retribusi pelayanan kesehatan hewan dan retribusi Rumah Potong Hewan (RPH).

“Untuk retribusi pelayanan kesehatan hewan, insya Allah bisa tercapai 100 persen. Target awal 80 persen, namun kami optimistis bisa maksimal hingga akhir tahun,” ujar Sumira, Senin (15/12/2025).

Berbeda dengan sektor pelayanan kesehatan hewan, sektor RPH justru menjadi kendala utama. Dari target sekitar Rp300 jutaan, realisasi penerimaan RPH masih berada di kisaran 57 persen. Hal ini disebabkan tidak optimalnya operasional sejumlah RPH di Bangkalan.

“Kami memiliki sembilan RPH, namun dua di antaranya tidak beroperasi selama setahun karena tidak ada aktivitas pemotongan. Jagalnya meninggal dan tidak ada yang melanjutkan,” jelas Sumira.

Selain faktor teknis tersebut, perubahan pola konsumsi masyarakat juga memengaruhi pendapatan RPH. Menurut Sumira, sebagian besar masyarakat kini beralih mengonsumsi daging unggas yang dinilai lebih terjangkau dibanding daging sapi.

Untuk menggenjot PAD, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Bangkalan menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah penyesuaian tarif retribusi RPH yang selama lebih dari 15 tahun tidak mengalami kenaikan, sementara biaya operasional terus meningkat.

“Sejak 2010 retribusi tidak pernah naik, padahal biaya listrik dan air terus meningkat. Penyesuaian ini menjadi kebutuhan,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya juga terus mendorong optimalisasi sertifikasi halal pada layanan RPH serta mengusulkan pembangunan Rumah Potong Unggas (RPU) sebagai sumber pendapatan baru.

“Permintaan daging unggas cukup tinggi. Jika RPU bisa terwujud, ini akan menjadi potensi PAD baru bagi daerah,” tambah Sumira.

Meski capaian PAD masih berada di angka 61,28 persen, Sumira memastikan pihaknya akan memaksimalkan penerimaan hingga tutup tahun anggaran dan menjadikan pembenahan RPH sebagai fokus utama pada tahun berikutnya.

“Kendala utama memang di RPH, tetapi kami tetap berupaya maksimal agar capaian PAD bisa terus ditingkatkan,” pungkasnya.

(Syah/IKS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *