Ketua IKAMA Tegas Tolak Anarkisme Ormas, Dukung Pembubaran Jika Meresahkan

Ketua Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) H. Rawi (tengah) bersama jajaran pengurus saat memberikan pernyataan sikap terkait penolakan aksi anarkisme dan komitmen pembinaan generasi muda Madura agar tetap menjunjung nilai budaya, ketertiban, serta hukum yang berlaku (Foto/Syah)

BANGKALAN,NOLESBERITA.COM– Ketua Ikatan Keluarga Madura (IKAMA), H. Rawi, angkat suara menanggapi keterlibatan oknum yang belakangan viral di Surabaya yang mengatasnamakan organisasi masyarakat (ormas) kedaerahan, khususnya Madura.

Ia menegaskan mendukung penuh langkah pemerintah daerah dan aparat penegak hukum terhadap ormas yang dinilai meresahkan masyarakat, meski telah mengantongi izin resmi.

“Saya sangat setuju, siapapun dan ormas manapun, jika dianggap anarkis dan meresahkan masyarakat, walaupun sudah memiliki izin Kementerian Hukum dan HAM, tetap harus ditindak. Kepala daerah punya kewenangan untuk itu,” kata Rawi. Rabu petang, 31 Desember 2025 saat konferensi pers di Kantor IKAMA sekaligus kegiatan do’a bersama dalam menyambut pergantian tahun 2025/2026.

Menurutnya, ormas seharusnya menjadi mitra pemerintah dalam menjaga ketertiban dan membangun bangsa. Namun jika justru menimbulkan kegaduhan dan keresahan publik, pembubaran merupakan langkah yang tepat.

“Kalau ormas itu kondusif, produktif, dan bekerja sama dengan pemerintah, ayo kita pertimbangkan. Tapi kalau melanggar dan menimbulkan kegaduhan, saya sangat setuju untuk dibubarkan,” tegasnya.

Rawi juga menekankan pentingnya pembinaan sumber daya manusia (SDM) pasca penindakan. Ia menilai, anggota ormas yang terlanjur terlibat tindakan melawan hukum perlu diarahkan melalui pelatihan dan pembekalan agar kembali berguna bagi masyarakat.

“SDM-SDM itu harus kita latih lagi, kita beri keterampilan, supaya bermanfaat. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Tidak boleh ada lagi anarkisme kepada siapapun,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Rawi mengajak generasi muda Madura agar tidak terjebak dalam praktik premanisme. Ia membuka ruang bagi mereka untuk bergabung dengan IKAMA guna mendapatkan solusi pekerjaan dan pelatihan.

“Anak-anakku, jangan sampai terkena operasi premanisme. Datang ke IKAMA. Mau jadi pedagang, pekerja, pelayaran, atau bidang lain, ayo kita training bersama,” kata dia.

Bahkan, lanjut Rawi, IKAMA telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan untuk menyalurkan tenaga kerja di bidang keamanan, tentu dengan tetap mematuhi aturan hukum yang berlaku.

Rawi menegaskan kehadiran IKAMA juga bertujuan meluruskan stigma negatif terhadap masyarakat Madura. Ia menekankan bahwa orang Madura berpegang teguh pada nilai luhur Bapak, Bebuk, Guru, Ratoh, serta falsafah hidup saling menghormati.

“Kalau ada yang melanggar petuah itu, mereka hanyalah oknum yang harus kita perbaiki bersama,” ujarnya.

Ia turut menyinggung insiden yang melibatkan kelompok yang mengatasnamakan komunitas Madura dan menuai kecaman luas, termasuk dari perantau Madura di luar negeri.

“Saya ditelepon dari Jepang. Mereka sedih dan marah, karena di sana orang Madura dipuji, tapi di tanah air justru ada kejadian yang mencoreng nama baik. Ini menyakitkan hati kami,” ungkapnya.

Rawi menegaskan bahwa tindakan anarkis tersebut tidak mencerminkan karakter orang Madura, terlebih jika berpihak pada pihak kuat dan menyakiti kaum lemah.

“Itu bukan soal orang Madura. Membela yang kuat dan menekan nenek-nenek adalah perbuatan yang dikutuk oleh seluruh komunitas Madura di perantauan,” katanya.

Atas nama IKAMA, Rawi menyampaikan apresiasi kepada Kapolda yang dinilainya proaktif menangani kasus tersebut hingga para pelaku ditahan.

“Kami berterima kasih kepada Bapak Kapolda. Semoga ini memberi efek jera dan menjadi pelajaran agar tidak mudah diprovokasi,” ucapnya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa orang Madura dikenal sangat menghormati ibu dan orang tua.

“Orang Madura paling patuh kepada ibu, apalagi nenek. Justru merekalah yang harus kita lindungi dan hormati,” pungkasnya.

Penulis: Syah

Editor: iks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *