Sepasang lansia Martulam (90) dan Tiken (85) terpaksa tidur di luar rumah akibat lumpuh dan keterbatasan hidup. Bantuan dari anggota DPRD Bangkalan, Musleh, hadir untuk meringankan derita mereka (Foto/Istimewa)
BANGKALAN, NOLESBERITA.COM- Sepasang lansia, Martulam (90) dan Tiken (85), hidup dalam kondisi memprihatinkan di Kampung Morlaok, Desa Blega, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan.
Tubuh mereka yang lumpuh memaksa tidur di luar rumah, menatap langit malam tanpa perlindungan, tak mampu bergerak untuk kebutuhan sehari-hari.
Selama hampir dua tahun, pasangan lansia ini hanya bisa bergantung pada belas kasihan tetangga. Setiap hari adalah perjuangan bertahan hidup, karena akses terhadap air bersih, listrik, dan makanan sangat terbatas. Kisah mereka pun viral di media sosial, mengejutkan banyak orang dan memicu kepedulian publik.
Respons cepat datang dari Muhammad Mosleh, anggota DPRD Bangkalan dari Partai Perindo. Sabtu, 27 Desember 2025, ia mendatangi pasangan lansia itu, menyalurkan bantuan sembako, uang tunai, saluran air, listrik, dan kebutuhan pokok lain yang selama ini sulit dijangkau.
“Begitu saya mendapat informasi dari rekan media, saya langsung meninjau. Kondisinya sungguh menyentuh hati. Bantuan ini mungkin kecil, tapi saya harap meringankan beban beliau,” kata Mosleh.
Kondisi Martulam dan Tiken menjadi cermin kelalaian sistem sosial dan minimnya perhatian terhadap lansia rentan. Mereka terpaksa tidur di bawah atap seadanya, menahan dingin dan hujan, tanpa bisa mengurus diri sendiri.
Mosleh menegaskan, aksi ini harus menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Bangkalan. “Semoga ini jadi perhatian Pemkab. Lansia seperti mereka tidak boleh diabaikan. Ini bukan sekadar kisah sedih, tapi peringatan nyata bagi kita semua,” ujarnya.
Bantuan yang diberikan bukan sekadar materi, tetapi simbol kepedulian wakil rakyat terhadap warganya yang paling lemah. Tidur di luar rumah bukan lagi sekadar nasib, tetapi peringatan nyata akan ketidakadilan sosial bagi lansia yang seharusnya dilindungi.
Kisah sepasang lansia ini menjadi pengingat keras: ketika lansia dibiarkan sendiri, derita mereka menunggu uluran tangan. Kini, Martulam dan Tiken menerima sedikit perhatian, tapi masih banyak lansia lain yang hidup terlupakan.
Penulis: Syah
