Ilustrasi kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan perkembangan teknologi canggih yang mulai mengancam sejumlah jenis pekerjaan manusia pada 2026, sebagaimana diperingatkan Geoffrey Hinton (Foto/eduparx)
JAKARTA, NOLESBERITA.COM-Tahun 2026 diprediksi menjadi fase krusial dalam perkembangan kecerdasan buatan (AI). Ilmuwan komputer asal Kanada Geoffrey Hinton, yang dikenal sebagai Bapak AI Dunia, memperingatkan bahwa kemajuan AI kini bergerak jauh lebih cepat dibanding kesiapan manusia dalam menghadapinya.
“Ancaman kehilangan pekerjaan akibat AI yang selama ini hanya menjadi pembicaraan, bisa mulai menjadi kenyataan tahun ini,” kata Hinton dalam wawancara terbarunya, dikutip CNBC Indonesia. Minggu, 4 Januari 2026.
Menurut Hinton, lonjakan kemampuan AI terjadi secara eksponensial dan mulai melampaui ekspektasi banyak pihak. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah rekayasa perangkat lunak, di mana AI kini mampu menulis, mengelola, hingga menyempurnakan kode dalam skala besar.
“Setiap sekitar tujuh bulan, AI bisa mengerjakan tugas dengan durasi dua kali lebih lama dari sebelumnya,” ujar Hinton. Ia menambahkan, jika tren tersebut berlanjut, AI berpotensi menangani proyek perangkat lunak besar yang saat ini membutuhkan kerja manusia selama berbulan-bulan.
Kondisi ini, menurutnya, akan membuat kebutuhan terhadap tim insinyur dalam jumlah besar semakin menyusut. Tak hanya pekerjaan kerah putih, Hinton juga menegaskan bahwa dampak AI akan meluas ke sektor lain.
“Setelah call center dan layanan pelanggan, pekerjaan kerah biru juga akan menghadapi risiko,” katanya, seiring kemampuan AI menjalankan tugas yang semakin kompleks dan beragam.
Peringatan Hinton sejalan dengan pandangan sejumlah tokoh AI dunia lainnya. Pionir AI Yoshua Bengio sebelumnya juga menilai bahwa kecerdasan buatan pada akhirnya dapat menggantikan sebagian besar, bahkan seluruh jenis pekerjaan manusia, dan memicu disrupsi besar di pasar tenaga kerja global.
Namun, Hinton menilai ancaman terbesar AI bukan hanya soal pekerjaan. Ia mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap kemampuan AI tingkat lanjut dalam bernalar dan memanipulasi manusia.
“Dalam skenario terburuk, AI bisa menyembunyikan niat aslinya dan menipu manusia agar tidak dimatikan,” kata Hinton. Menurutnya, risiko ini jauh lebih mengkhawatirkan dibanding yang ia bayangkan sebelumnya.
Editor: Sultoni
