Aceh Perpanjang Tanggap Darurat di 11 Kabupaten, Pemulihan Dipercepat

Bangunan kios dan rumah warga rusak diterjang banjir bandang di salah satu wilayah Aceh. Material kayu, lumpur, dan puing bangunan menutup akses jalan, sementara pemerintah memperpanjang status tanggap darurat di 11 kabupaten guna mempercepat penanganan dan pemulihan pascabencana (Foto/RRI)

JAKARTA,Nolesberita.com-Sebanyak 11 kabupaten di Provinsi Aceh memperpanjang status tanggap darurat menyusul bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatra dan Aceh.

Pemerintah pusat memastikan upaya tanggap darurat dan pemulihan tetap berjalan tanpa henti, termasuk menjelang pergantian tahun 2025 ke 2026.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan, pemerintah terus mempercepat penanganan bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat agar kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi secara maksimal.

“Kami hadir untuk memastikan percepatan langkah tanggap darurat dan pemulihan tetap dilaksanakan. Tidak ada libur, semuanya terus bekerja demi masyarakat,” ujar Pratikno dalam konferensi pers, Kamis (25/12/2025) seperti dikutip dari kabarbisnis.com.

Secara nasional, Pratikno menyebut terdapat 52 kabupaten/kota di tiga provinsi yang terdampak bencana. Dari jumlah tersebut, 12 daerah telah masuk fase transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan.

Ia menjelaskan, perpanjangan status tanggap darurat di Aceh dilakukan agar seluruh kebutuhan warga, mulai dari logistik hingga layanan dasar, dapat dipenuhi sebelum daerah benar-benar siap masuk ke tahap pemulihan.

“Semua ini dilakukan agar upaya tanggap darurat bisa berjalan maksimal dan daerah siap memasuki fase pemulihan,” katanya.

Dalam paparannya, Pratikno menyampaikan pemerintah saat ini memfokuskan percepatan pada pembangunan hunian sementara dan hunian tetap.

Di Sumatra Barat, pembangunan huntara telah berjalan di enam kabupaten/kota, sementara di Sumatra Utara berlangsung di tiga daerah.

Di Aceh, pembangunan baru dimulai di satu kabupaten dan wilayah lain masih dalam tahap persiapan lahan.

Menurutnya, ketersediaan lahan menjadi salah satu tantangan utama percepatan pembangunan hunian. Proses ini dilakukan secara kolaboratif antara BNPB, pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta organisasi kemasyarakatan.

Selain hunian, pemerintah juga memprioritaskan pemulihan konektivitas transportasi. Dari total 81 ruas jalan nasional yang terdampak, sebanyak 72 ruas atau hampir 90 persen telah kembali berfungsi. Sementara sembilan ruas lainnya masih dalam tahap percepatan penanganan.

“Pengerjaan jalan tidak berhenti agar distribusi logistik dan akses layanan darurat tetap lancar,” ujarnya.

Di sektor kesehatan, Pratikno menyebut seluruh rumah sakit pemerintah telah kembali beroperasi meski sebagian belum maksimal. Ratusan puskesmas keliling juga telah aktif melayani warga, dengan dukungan tenaga medis relawan, TNI, dan Polri.

Ia turut memastikan stok logistik dalam kondisi aman dan terus diupayakan menjangkau wilayah terisolasi. Di sejumlah daerah Aceh, distribusi bantuan bahkan dilakukan menggunakan motor trail untuk mengangkut bahan pangan, BBM, dan LPG.

Pada saat yang sama, pemerintah pusat juga melakukan pembenahan tata kelola sumber daya alam dengan mencabut izin pemanfaatan lahan skala besar serta menghentikan sementara aktivitas lima perusahaan tambang yang dinilai berisiko terhadap lingkungan.

“Ini sikap tegas pemerintah. Kita tidak hanya memulihkan keadaan, tapi memperbaikinya agar lebih baik ke depan,” tegas Pratikno.

Di bidang pendidikan, pemerintah menargetkan kegiatan belajar mengajar kembali berjalan pada awal Januari 2026. Di Aceh, sekitar 65 persen sekolah telah disiapkan untuk beroperasi, sementara di Sumatra Utara dan Sumatra Barat tingkat kesiapan sekolah mendekati 90 persen.

Pratikno menegaskan seluruh langkah percepatan tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto kepada seluruh jajaran pemerintah agar penanganan bencana dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Menutup pernyataannya, Pratikno mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan mengajak seluruh elemen bangsa bergotong royong membantu korban bencana.

“Marilah kita sambut tahun 2026 dengan penuh harapan, bahu-membahu, bangkit bersama, dan membangun Indonesia yang lebih baik,” pungkasnya.

Editor: Sultoni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *